Total Tayangan Halaman

Tampilkan postingan dengan label Logika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Logika. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 April 2012

Pendekatan Dan Strategi Pembelajaran PKn di Sekolah

Pendekatan Dan Strategi Pembelajaran PKn di Sekolah (afektif nilai moral)

Pengertian Pendekatan
Pendekatan merupakan terjemahan dari kata “approach” dalam bahan Inggris diartikan dengan Come Near (menghampiri), go to (jalan ke), dan Way Path dengan (arti jalan) dalam pengertian ini dapat dikatakan bahwa approach adalah cara menghampiri atau mendatangi sesuatu.
H. M. Chabib Thaha mendefinisikan pendekatan adalah cara pemrosesan subjek atas objek untuk mencapai tujuan. Pendekatan juga bisa berarati cara pandang terhadap sebuah objek persoalan dimana cara pandang itu adalah cara pandang dalam konteks yang lebih luas.

Dengan demikian pendekatan merupakan suatu cara kita melihat atau cara pemrosesan subjek atas objek, dalam konteks ini adalah proses belajar mengajar, subjek dari pembelajaran bisa guru atau siswa dan begitu pula objek pembelajaran dapat berasal dari guru maupun siswanya. Upaya guru untuk memilih pendekatan yang tepat di dalam pengajaran adalah harus disesuaikan dengan tuntutan peserta didiknya ia harus mengusahakan agar pelajaran yang diberikan kepada peserta didiknya mudah diterima, seorang guru tidak cukup bersikap lemah lembut, terkadang guru juga harus memiliki metode tepat, teknik yang baik untuk mengembangkan pikiran atau bakat siswa agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Serta guru harus memikirkan tentang hal-hal yang berpengaruh dalam proses belajar mengajar seperti memilih waktu yang tepat, materi yang cocok, fektivitas penggunaan metode dan sebagainya.



Syam, 2008
Pendekatan adalah konsep dasar yang mewadahi, menginsipirasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Satu pendekatan dapat dijabarkan ke dalam berbagai metode pembelajaran.
Jadi berdasarkan pengertian ini pendekatan adalah suatu dasar bagi suatu konsep untuk mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan teoritis tertentu. Pendekatan yang mewadahi artinya pendekatan yang digunakan harus dapat menempatkan atau dapat menyesuaikan suatu keadaan dalam proses pembelajaran sebagaimana yang diinginkan. Pendekatan menginspirasi tentang apa yang akan dilakukan atau metode apa yang harus digunakan dalam belajar mengajar. Pendekatan yang menguatkan bahwasannya pendekatan yang kita gunakan harus menjadi suatu penguat, pengingat, berupa penghargaan pada objek dalam pembelajaran baik siswa maupun guru. Dengan pendekatan  dapat melatari, mengambil dan memilih metode pembelajaran mana yang sesuai yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran, baik pendekatan yang berpusat pada siswa maupun yang berpusat pada guru. Satu pendekatan dapat dijabarkan ke dalam berbagai metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran.
Ada dua kutub pendekatan yang bertolak belakang, yaitu ekspositori dan discovery. Kedua pendekatan tersebut bermuara dari teori Ausubel yang menggunakan penalaran deduktif (ekspositori) dan teori Bruner yang menggunakan penalaran induktif (discovery). Terdapat metode-metode pembelajaran dari metode yang berpusat pada guru (ekspositori), seperti ceramah, tanya jawab, demonstrasi, sampai dengan metode yang berpusat pada siswa (discovery/inquiry), seperti eksperimen.



Pengertian Strategi
Suwarma Al Muchtar, dkk. 2007
Strategi pembelajaran adalah cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pelajaran dalam lingkungan pengajaran tertentu yang meliputi sifat, lingkup, dan urutan kegiatan yang dapat memberi pengalaman belajar kepada siswa. Strategi pembelajaran terdiri dari teknik (prosedur) dan metode yang akan membawa siswa pada pencapaian tujuan.
Dari definisi ini maka saya dapat menyimpulkan bahwa strategi pembelajaran adalah cara dalam penyampaian materi pelajaran dalam suatu lingkungan pengajaran tertentu seperti sekolah yang meliputi sifat, lingkup dan urutan kegiatan yang memberi pengalaman belajar pada siswa. Sifatnya disini dapat berupa sifat umum yaitu proses penentuan rencana yang berfokus pada tujuan jangka panjang, disertai penyusunan suatu cara atau upaya bagaimana agar tujuan tersebut dapat dicapai. Sedangkan cara khususnya Strategi merupakan tindakan yang bersifat incremental (senantiasa meningkat) dan terus menerus, serta dilakukan berdasarkan sudut pandang tentang apa yang diharapkan dari proses pembelajaran dimasa depan.
Strategi tentu saja disesuaikan dengan lingkup yang dibahas, disini kita dalam lingkup pendidikan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Serta strategi harus berurutan artinya bahwa strategi yang telah dibuat haruslah dilaksanakan berurutan dengan metode dan teknik yang baik. Dapat dikatakan bahwa sebenarnya strategi itu lebih luas atau berada diatas dari teknik dan metode. Teknik dan metode adalah bagian dari strategi yang akan digunakan guru dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan belajar yaitu ketuntasan siswa dan adanya perubahan perilaku yang kearah positif tentunya.
strategi adalah kiat yang digunakan untuk mencapai tujuan kelompok atau pribadi secara keseluruhan melalui serangkaian aktifitas yang unik atau berbeda dari yang lain dan terus menerus untuk mendapatkan hasil yang maksimal berdasarkan kebutuhan dan keinginan yang ingin dicapai, ditopang dengan saran dan prasarana dikendalikan oleh seorang pemimpin. Disini kita dapat mengetahui bahwasannya suatu strategi dapat berhasil dengan ditopang oleh saran dan prasarana yang ada dan mendukung berjalannya sebuah strategi dalam pembelajaran.
Ada dua jenis strategi yaitu strategi deduktif dimulai dari penampilan prinsip-prinsip yang diketahui ke prinsip-prinsip yang belum diketahui. Sebaliknya dengan strategi induktif, pembelajaran dimulai dari prinsip-prinsip yang belum diketahui. Macam dari strategi yaitu strategi ekspositori langsung merupakan strategi yang berpusat pada guru. Guru menyampaikan informasi terstruktur dan memonitor pemahaman belajar, serta memberikan balikan.
Strategi belajar tuntas merupakan suatu strategi yang memberi kesempatan belajar secara individual sampai pembelajar menuntaskan pelajaran sesuai irama belajar masing-masing. Ceramah dan demonstrasi merupakan dua strategi yang pada hakikatnya sama, yaitu guru menyampaikan fakta dan prinsip-prinsip, namun pada demonstrasi sering kali guru menunjukkan (mendemonstrasikan) suatu proses.

Bersumber pada http://www.tipskom.co.cc/2009
Strategi adalah pendekatan secara keseluruhan yang berkaitan dengan pelaksanaan gagasan, perencanaan, dan eksekusi sebuah aktivitas dalam kurun waktu tertentu.
Jadi strategi disini diartikan sebagi suatu pendekatan (konsep dasar) yang secara keseluruhan dan saling berkaitan dengan pelaksanaan gagasan atau ide yang muncul, perencanaan, dan eksekusi atau pelaksanaan dari strategi yang telah dibuat dalam jangka waktu tertentu. Dalam definisi ini ditekankan pula bahwa pendekatan merupakan bagian dari strategi yang berkaitan bermula dari ide, kemudian dibuat suatu rencana-rencana, metode (langkah-langkah) kemudian eksekusinya atau pelaksanaannya untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Didalam strategi yang baik haruslah terdapat koordinasi tim kerja (jika dalam suatu kelompok atau tim kerja), memiliki tema atau acuan pokok berupa konsep, mengidentifikasi faktor pendukung yang sesuai dengan prinsip-prinsip pelaksanaan gagasan secara rasional atau masuk akal, efisien dalam pendanaan, dan memiliki taktik untuk mencapai tujuan secara efektif sehingga tidak membuang energi yang terlalu berlebihan. Oleh karena itu, guru perlu menguasai dan dapat menerapkan berbagai strategi yang di dalamnya terdapat pendekatan, model, dan teknik secara spesifik.
Dari uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa pendekatan adalah suatu dasar bagi suatu konsep untuk mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan teoritis tertentu. Dengan pendekatan  dapat melatari, mengambil dan memilih metode pembelajaran mana yang sesuai dalam pembelajaran PKn di sekolah dalam proses pembelajaran, baik pendekatan yang berpusat pada siswa yaitu siswa yang harus mencari dan menganalisis suatu materi dengan cara berpikir masing-masing siswa, sehingga dapat berkembang dengan kemampuan siswa sendiri dan guru hanya memberi arahan kepada siswa dan membuat alur belajar siswa agar mencapai tujuan pembelajaran yang diingginkan. Serta yang berpusat pada guru yaitu gurulah yang menjadi sumber bagi siswa untuk belajar dan bertanya, siswa hanya menerima apa yang disampaikan oleh guru, dalam pendekatan ini kurang baik bagi siswa, Karena siswa tidak dapat mengmbangkan dirinya masing-masing dan terpaku pada guru. Dalam suatu pendekatan dapat dijabarkan ke dalam berbagai metode pembelajaran yang akan digunakan dalam proses pembelajaran PKn disekolah dalam mencapai tujuan pembelajaran yaitu dapat merubah perilaku (afektif)  nilai moral siswa.
Strategi pembelajaran adalah cara dalam penyampaian materi pelajaran dalam suatu lingkungan pengajaran tertentu seperti sekolah yang meliputi sifat, lingkup dan urutan kegiatan yang memberi pengalaman belajar pada siswa PKn di sekolah. Strategi sebagai seluruh rangkaian dari pendekatan, metode, dan tekkik yang digunakan dalam penyampaian pelajaran PKn. Dalam suatu strategi dapat diuraikan beberapa metode dan teknik pembelajaran. Dalam pelajaran PKn saat ini telah banyak yang hanya menilai dari segi kognitif. Sebenarnya seluruh strategi, pendekatan yang digunakan juga bertujuan untuk merubah sikap siswa kearah yang positif dalam aspek afektif ( nilai moral) tidak hany apada aspek kognitifnya saja.

Selasa, 01 Maret 2011

ILMU LOGIKA ATAU ILMU PENALARAN


ILMU LOGIKA/ILMU PENALARAN

A.   Pengertian Ilmu Logika

Ilmu Logika merupakan suatu istilah yang terdiri atas dua kata: ilmu dan logika. Secara harfiah, ilmu bermakna ‘pengetahuan atau kepandaian, baik tentang segala yang masuk jenis kebatinan maupun yang berkenaan dengan keadaan alam dsb.’ (Pusat Bahasa, 2006)

Menurut SURIASUMANTRI (1985), logika adalah pengkajian untuk berpikir secara sahih.

MUNDIRI (2000) membatasi logika sebagai ilmu yang mempelajari metode dan hukum-hukum yang digunakan untuk membedakan penalaran yang betul dari penalaran yang salah (diambil dari definisi Irving M. Copi)

Jadi, berdasar definisi-definisi ini logika adalah suatu ilmu yang mempelajari cara berpikir tentang segala yang termasuk kebatinan maupun keadaan alam untuk membedakan penalaran yang betul atau berpikir secara benar dan sahih.

MUNDIRI (2000) mengemukakan bahwa yang pertama kali menggunakan kata logika adalah Zeno dari Citium. Kaum Sofis, Socrates, dan Plato tercatat sebagai tokoh-tokoh yang ikut merintis lahirnya logika. Logika lahir sebagai ilmu atas jasa Aristoteles, Theoprostus, dan Kaum Stoa. Logika dikembangkan secara progresif oleh bangsa Arab dan kaum muslimin pada Abad II Hijriyah. Logika menjadi bagian yang menarik perhatian dalam perkembangan kebudayaan Islam. Namun, juga mendapat reaksi yang berbeda-beda. Sebagai contoh, Ibnu Salah dan Imam Nawawi mengatakan haram mempelajari logika, Al-Ghazali menganjurkan dan menganggap baik, sedangkan Jumhur Ulama membolehkan bagi orang-orang yang cukup akalnya dan kokoh imannya.
Logika adalah sebuah cabang filsafat yang praktis. Praktis disini berarti logika dapat dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Logika lahir bersama-sama dengan lahirnya filsafat di Yunani. Dalam usaha untuk memasarkan pikiran-pikirannya serta pendapat-pendapatnya, filsuf-filsuf Yunani kuno tidak jarang mencoba membantah pikiran yang lain dengan menunjukkan kesesatan penalarannya.
Logika digunakan untuk melakukan pembuktian. Logika mengatakan yang bentuk inferensi yang berlaku dan yang tidak. Secara tradisional, logika dipelajari sebagai cabang filosofi, tetapi juga bisa dianggap sebagai cabang matematika. logika tidak bisa dihindarkan dalam proses hidup mencari kebenaran
Logika mempelajari hukum-hukum, patokan-patokan dan rumus-rumus berpikir. Psikologi juga membicarakan aktivitas berpikir, karena itu kita hendaklah berhati-hati melihat persimpangannya dengan logika. Psikologi mempelajari pikiran dan kerjanya tanpa menyinggung sama sekali urusan benar salah. Sebaliknya urusan benar dan salah menjadi masalah pokok dalam logika. Logika tidak mempelajari cara berpikir dari semua ragamnya, tetapi pemikiran dalam bentuk yang paling sehat dan praktis. Banyak jalan pemikiran kita dipengaruhi oleh keyakinan, pola berpikir kelompok, kecenderungan pribadi, pergaulan dan sugesti. Juga banyak pemikiran yang diungkapkan sebagai luapan emosi seperti caci maki, kata pujian, atau pernyataan kekaguman dan keheranan . dan ada juga pemikiran yang diungkapkan dengan argument yang secara selintas kelihatan benar untuk memutarbalikan kenyataan dengan tujuan memperoleh keuntungan pribadi maupun golongan.
Logika menyelidiki, menyaring dan menilai pemikiran dengan cara serius dan terpelajar serta bertujuan mendapatkan kebenaran terlepas dari segala kepentingan dan keinginan perorangan. Ia merumuskan serta menerapkan hukum-hukum dan patokan-patokan yang harus ditaati agar manusia dapat berpikir benar, efisien, dan teratur. Dengan demikian ada dua objek penyelidikan logika, pertama, pemikiran sebagai objek material dan, kedua, patokan-patokan atau hukum-hukum berpikir benar sebagai objek formalnya.
Lantas, mungkinkah kita mempelajari barang ghaib yang disebut pikiran itu? Manusia bukanlah wujud spiritual murni, tetapi merupakan perpaduan antara wujud  jasmani dan rohani. Karena itu ia memerlukan sarana material untuk dapat menangkap pikiran yang ghaib itu. Kalau tidak mungkin dapat memahami pikiran atau isyarat. Isyarat adalah perkataan yang dipadatkan, karena itu ia adalah perkataan juga. Jadi pikiran dan perkataan adalah identik tidak berbeda satu sama laindan bukan tambahan bagi masing-masingnya. Pikiran adalah perkataan dan perkataan adalah pikiran. Angan-angan khayalan, pikiran yang berkecamuk dalam dada dan kepala kitatidak lain adalah bisikan kata yang amat lembut. Kata-kata yang mewakili pikiran ini bukan sekedar coretan pena yang dituliskan atau suara gaduh yang diucapkan, tetapi merupakan susunan kata yang mewakili maksud tertentu yang lengkap. Susunan kata yang memuat pemikiran disebut proposisi.
Pengetahuan kita tidak lain adalah proposisi-proposisi. dalam aktivitas berpikir kita selalu membanding, menganalisis serta menghubungkan proposisi yang satu dengan lainnya. Dengan demikian penyelidikan mantiq dalam mencari kebenaran dalam pemikiran selalu berurusan dengan struktur dan relasi proposisi.

B.     Pembagian logika

Logika dapat disistematisasikan menjadi beberapa golongan, tergantung dari mana kita meninjaunya.
1.      Dilihat dari segi kualitasnya
Logika dapat dibedakan menjadi logika Naturalis yaitu kecakapan berlogika berdasarkan kemampuan akal bawaan manusia. Akal manusia yang normal dapat bekerja secara spontan sesuai hukum-hukum logika dasar. Bagaimanapun rendahnya intelegensi seseorang ia dapat membedakan bahwa sesuatu itu adalah berbeda dengan sesuatu yang lain, dan bahwa dua kenyataan yang bertentangan tidaklah sama. Kemampuan berlogika naturalis pada tiap-tiap orang berbeda-beda tergantung dari tingkatan pengetahuannya. Kita dapati para ahli pidato, politikus dan mereka yang terbiasa bertukar pikiran dapat mengutarakan jalan pemikiran dengan logis, meskipun barangkali mereka belum pernah membuka buku Logika sekalipun. Tetapi dalam menghadapi masalah yang rumit dan dalam berpikir, manusia banyak dipengaruhi oleh kecenderungan pribadi disamping bahwa pengetahuan manusia terbatas mengakibatkan tidak mungkin terhindar dari kesalahan. Untuk mengatasi kenyataan yang tidak dapat ditanggulangi oleh logika naturalis, manusia menyusun hukum-hukum, patokan-patokan, rumus-rumus berpikir lurus. Logika ini disebut logika Astifisialis atau logika Ilmiah yang bertugas membantu logika naturalis. Logika ini memperhalus, mempertajam serta menunjukkan jalan pemikiran agar akal dapat bekerja lebih teliti, efisien, mudah dan aman.
2.      Dilihat dari metodenya
Logika tradisional adalah logika Aristoteles, dan logika daripada Logikus yang lebih kemudian, tetapi masih mengikuti sistem Logika Aristoteles. Para logikus sesudah Arisoteles tidak membuat perubahan atau pencipta sistem baru dalam logikakecuali hanya membuat komentar yang menjadikan Logika Aristoteles lebih elegant dengan sekedar mengadakan perbaikan-perbaikan dan membuang hal-hal yang tidak penting dari Logika Aristoteles. Logika Modern tumbuh dan dimulai pada abad  XIII. Mulai abad ini ditemukan sistem baru, metode baru yang berlainan dengan sistem Logika Aristoteles. Saatnya dimulai sejak Raymundus Lullus menemukan metode baru Logika yang disebut Ars magna.
3.      Dilihat dari objeknya dikenal sebagai logika Formal dan Logika Material.
Pemikiran yang benar dapat dibedakan menjadi dua bentuk yang berbeda secara radikal yakni cara berpikir dari khusus ke umum. Cara pertama disebut berpikir deduktif dipergunakan dalam logika formal yangmempelajari dasar-dasar persesuaian (tidak adanya pertentangan) dalam pemikiran dengan menggunakan hukum-hukum, rumus-rumus, patokan-patokan berpikir benar. Cara berpikir induktif dipergunakan dalam logika material, yang mempelajari dasar-dasar persesuaian pikiran dengan kenyataan. Ia menilai hasil hasil pekerjaan logika Formal dengan menguji benar tidaknya dengan kenyataan empiris. Cabang logika formal disebut juga Logika minor, Logika material, dan Logika Mayor.

C.   Manfaat logika

Keseluruhan informasi keilmuan merupakan suatu sistem yang bersifat logis, karena itu science tidak mungkin melepaskan kepentingannya terhadap logika. Manfaat logika diantaranya:
  1. Membantu setiap orang yang mempelajari logika untuk berpikir secara rasional, kritis, lurus, tetap, tertib, metodis dan koheren.
  2. Meningkatkan kemampuan berpikir secara abstrak, cermat, dan objektif.
  3. Menambah kecerdasan dan meningkatkan kemampuan berpikir secara tajam dan mandiri.
  4. Memaksa dan mendorong orang untuk berpikir sendiri dengan menggunakan asas-asas sistematis
  5. Meningkatkan cinta akan kebenaran dan menghindari kesalahan-kesalahan berpkir, kekeliruan serta kesesatan.
  6. Mampu melakukan analisis terhadap suatu kejadian.
  7. Terhindar dari klenik , gugon-tuhon ( bahasa Jawa )
  8. Apabila sudah mampu berpikir rasional,kritis ,lurus,metodis dan analitis sebagaimana tersebut pada butir pertama maka akan meningkatkan citra diri seseorang.
Logika membantu berpikir lurus, efisien, tepat dan teratur untuk mendapatkan kebenaran dan menghindari kekeliruan. Dalam segala aktivitas berpikir dan bertindak, manusia mendasarkan diri atas prinsip ini. Logika menyampaikan kepada berpikir benar, lepas dari berbagai prasangka emosi dan keyakinan seseorang; karena itu ia mendidik manusia bersikap objektif tegas dan berani, suatu sikap yang dibutuhkan dalam segala suasana dan tempat.

Induksi - Deduksi


DEDUKSI DAN INDUKSI

A.    INDUKSI
Induksi adalah cara mempelajari sesuatu yang bertolak dari hal-hal atau peristiwa khusus untuk menentukan hukum yang umum (Kamus Umum Bahasa Indonesia, hal 444 W.J.S.Poerwadarminta. Balai Pustaka 2006)
Induksi merupakan cara berpikir dimana ditarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual. Penalaran secara induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang lingkup yang khas dan terbatas dalam menyusun argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum (filsafat ilmu.hal 48 Jujun.S.Suriasumantri Pustaka Sinar Harapan. 2005)
Berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum. Hukum yang disimpulkan difenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti. Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif. (www.id.wikipedia.com)
Berdasarkan definisi di atas induksi adalah cara berfikir untuk menarik kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat individual. Penalaran ini dimulai dari kenyataan-kenyataan yang bersifat khusus dan terbatas diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum. Seperti:
Kucing membutuhkan makanan
Sapi membutuhkan makanan
Gajah  membutuhkan makanan
Manusia membutuhkan makanan
Jadi, semua makhluk hidup membutuhkan makanan
Cara penilaian ini mempunyai dua keuntungan. Pertama, kita dapat berpikir secara ekonomis. Meskipun eksperimen kita terbatas pada beberapa kasus individual, kita bisa mendapatkan pengetahuan yang lebih umum tidak sekedar kasus yang menjadi dasar pemikiran kita. Untuk mendapatkan pengetahuan bahwa: semua makhluk hidup membutuhkan makanan, kita tidak usah membuat penyelidikan terhadap setiap makhluk hidup, tetapi cukup sebagian daripadanya. Kedua, penyataan yang dihasilkan melalui cara berpikir induksi tadi memungkinkan proses penalaran selanjutnya, baik secara induktif maupun secara deduktif. Secara induktif kita dapat menyimpulkan pernyataan tadi kepada pernyataan yang lebih umum lagi. Melanjutkan contoh tadi dari pernyataan yang lebih umum lagi. Melanjutkan contoh tadi dari pernyataan “semua makhluk hidup membutuhkan makanan”, dapat ditarik kesimpulan bahwa semua semua makhluk hidup membutuhkan makanan.
Coba perhatikan, bagaimana kita dapat menyimpulkan bahwa semua benda akan jatuh jika dilepaskan dari ketinggian tertentu? Pertama, kita ambil botol lalu melepaskannya. Botol tersebut jatuh. Kemudian kita melakukan hal yang sama dengan pensil, sandal, batu, kelereng, topi, dan apel. Ternyata semuanya juga jatuh. Dari berbagai percobaan ini, kita dapat menyimpulkan bahwa “semua benda akan jatuh jika dilepaskan dari ketinggian tertentu”. Apakah dapat dipastikan bahwa benda-benda lain pasti akan jatuh jika dilepaskan pada ketinggian tertentu? Tidak. Kita hanya dapat mengatakan bahwa kemungkinan besar benda tersebut akan jatuh juga. Demikianlah cara kita mengenal hukum-hukum alam pada kegiatan sehari-hari, yaitu dengan cara induksi. Hal ini sesuai dengan sifat induksi yang spekulatif.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata 'spekulasi' dapat berarti : 'suatu hal yang masih dalam perkiraan ... ', bisa juga 'belum dapat dipastikan kebenarannya ... '. Spekulatif adalah dugaan bersifat sementara,yang kemungkinan akan berubah lagi sesuai perkembangaan..
Dari sejumlah eksperimen yang sudah dilakukan tersebut di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa semua benda akan jatuh jika dilepaskan dari ketinggian tertentu. Kita hanya dapat meyakini bahwa hipotesis tersebut kemungkinan besar sesuai dengan hasil pengamatan pada eksperimen di waktu mendatang.
Dengan penggunaan metode induksi sebagai dasar pola berpikir saintifik, berarti masih terdapat kemungkinan bahwa seluruh pengetahuan pada sains adalah salah! Kalau begitu, apakah yang kita pelajari saat ini adalah kesia-siaan belaka? Tentu tidak. Memang benar bahwa kita tidak dapat memastikan bahwa suatu teori/hipotesis itu benar, namun kita dapat memastikan bahwa teori/hipotesis itu belum salah. Ini adalah landasan berpikir saintifik. Selama masih belum ditemukan kesalahan teori tersebut, maka teori tersebut akan selalu dianggap benar.

B.     DEDUKSI
Latar belakang adanya Penalaran deduktif dikembangkan oleh Aristoteles, Thales, Pythagoras, dan para filsuf Yunani lainnya dari Periode Klasik (600-300 SM.). Aristoteles, misalnya, menceritakan bagaimana Thales menggunakan kecakapannya untuk mendeduksikan bahwa musim panen zaitun pada musim berikutnya akan sangat berlimpah. Karena itu ia membeli semua alat penggiling zaitun dan memperoleh keuntungan besar ketika panen zaitun yang melimpah itu benar-benar terjadi.  Penalaran deduktif tergantung pada premisnya. Artinya, premis yang salah mungkin akan membawa kita kepada hasil yang salah, dan premis yang tidak tepat juga akan menghasilkan kesimpulan yang tidak tepat.
Deduksi berasal dari bahasa Inggris deduction yang berarti penarikan kesimpulan dari keadaan-keadaan yang umum, menemukan yang khusus dari yang umum, lawannya induksi (Kamus Umum Bahasa Indonesia hal 273 W.J.S.Poerwadarminta. Balai Pustaka 2006)
Deduksi adalah cara berpikir dimana dari pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir yang dinamakan silogismus. Silogismus disusun dari dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan. (Filsafat Ilmu.hal 48-49 Jujun.S.Suriasumantri Pustaka Sinar Harapan. 2005)
Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus. (www.id.wikipedia.com).
Jadi, deduksi adalah kegiatan berpikir merupakan kebalikan dari penalaran induksi. Deduksi adalah cara berpikir dari pernyataan yang bersifat umum, menuju kesimpulan yang bersifat khusus penalaran yang membangun atau mengevaluasi argumen deduktif. Argumen dinyatakan deduktif jika kebenaran dari kesimpulan ditarik atau merupakan konsekuensi logis dari premis-premisnya. Argumen deduktif dinyatakan valid atau tidak valid, bukan benar atau salah. Sebuah argumen deduktif dinyatakan valid jika dan hanya jika kesimpulannya merupakan konsekuensi logis dari premis-premisnya.
Seperti:
Semua makhluk hidup membutuhkan makanan
Badak  adalah makhluk hidup
Jadi badak membutuhkan makanan
Dengan penalaran induktif kita mendapat pengetahuan bahwa semua makhluk hidup membutuhkan makanan. Dengan penalaran deduktif kita mendapat pengetahuan yang terpercaya, bahwa makhluk hidup membutuhkan makanan, meskipun pengetahuan ini kita dapatkan tidak melalui penelitian lebih dahulu. Inilah keuntungan cara berpikir deduktif.
Tabel di bawah ini menunjukkan beberapa ciri utama yang membedakan penalaran induktif dan deduktif.
Deduktif
Induktif
Jika semua premis benar maka kesimpulan pasti benar
Jika premis benar, kesimpulan mungkin benar, tapi tak pasti benar.
Semua informasi atau fakta pada kesimpulan sudah ada, sekurangnya secara implisit, dalam premis.
Kesimpulan memuat informasi yang tak ada, bahkan secara implisit, dalam premis.

Jadi antara penalaran deduktif dan induktif  mempunyai hubungan yang erat. Mula-mula orang menggunakan penalaran induktif untuk mendapatkan penyataan yang bersifat umum. Pernyataan umum ini menjadi dasar pemikiran induktif. Dengan deduksi kita dapat mengetahui pengetahuan baru yang dicakup oleh pernyataan induktifnya.
Penalaran deduktif memberlakukan prinsip-prinsip umum untuk mencapai kesimpulan-kesimpulan yang spesifik, sementara penalaran induktif menguji informasi yang spesifik, yang mungkin berupa banyak potongan informasi yang spesifik, untuk menarik suatu kesimpulan umum. Dengan memikirakan fenomena bagaimana apel jatuh dan bagaimana planet-planet bergerak, Isaac Newton menyimpulkan teori daya tarik. Pada abad ke-19, Adams dan LeVerrier menerapkan teori Newton (prinsip umum) untuk mendeduksikan keberadaan, massa, posisi, dan orbit Neptunus (kesimpulan-kesimpulan khusus) tentang gangguan (perturbasi) dalam orbit Uranus yang diamati (data spesifik).
Perbedaan dasar di antara keduanya dapat disimpulkan dari dinamika deduktif tengan progresi secara logis dari bukti-bukti umum kepada kebenaran atau kesimpulan yang khusus; sementara dengan induksi, dinamika logisnya justru sebaliknya. Penalaran induktif dimulai dengan pengamatan khusus yang diyakini sebagai model yang menunjukkan suatu kebenaran atau prinsip yang dianggap dapat berlaku secara umum.
Pengetahuan yang benar dapat menggunakan dua metode ini secara cermat dan kritis. Pengembangan pengetahuan semata-mata mengantungkan penalaran induksi akan sangat lambat dan boros. Sebaliknya deduksi meminta jasa induksi dalam menggunakan dasar pemikirannya.